Di Indonesia, sejarah Ramadhan memiliki warna yang sangat lokal, memadukan diplomasi politik, strategi perang, hingga akulturasi budaya yang unik.
Berikut adalah beberapa fakta sejarah Ramadhan di Indonesia yang jarang tersorot:
1. Proklamasi Kemerdekaan Terjadi di Bulan Ramadhan
Ini adalah fakta besar yang sering terlupakan: 17 Agustus 1945 jatuh pada tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriah.
Kondisi Fisik Soekarno: Saat membacakan teks proklamasi, Bung Karno sebenarnya sedang sakit (gejala malaria) dan sedang menjalani ibadah puasa.
Sahur Terakhir sebagai Bangsa Terjajah: Sebelum proklamasi, para tokoh bangsa seperti Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo melakukan rapat darurat dan makan sahur sederhana di rumah Laksamana Maeda sebelum menuju Pegangsaan Timur.
2. Tradisi "Padusan" dan "Meugang" dari Akulturasi
Jauh sebelum Islam masuk secara masif, masyarakat Nusantara sudah memiliki tradisi pembersihan diri dengan air.
Padusan (Jawa): Awalnya adalah tradisi mensucikan diri di kolam suci. Para wali (Walisongo) kemudian mengadaptasi nilai-nilai ini sebagai simbol pembersihan lahir batin sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Meugang (Aceh): Tradisi menyembelih sapi ini sudah ada sejak zaman Sultan Iskandar Muda (abad ke-17). Sultan memotong banyak ternak dan membagikan dagingnya secara gratis kepada rakyat miskin agar semua orang bisa menikmati makanan enak saat menyambut bulan puasa.
3. "Diplomasi Takjil" Melawan Penjajah
Pada masa kolonial, masjid menjadi pusat perlawanan. Ramadhan sering digunakan sebagai kedok untuk berkumpul tanpa dicurigai oleh Belanda.
Acara buka puasa bersama atau tadarus dijadikan kedok untuk menyusun strategi perang atau menyebarkan pesan kemerdekaan.
Penjajah Belanda sering merasa kesulitan memantau aktivitas di masjid selama malam Ramadhan karena aktivitas ibadah yang terlihat "normal" namun sarat pesan politik perlawanan.
4. Perang Jawa (Pangeran Diponegoro)
Pangeran Diponegoro sangat menghormati bulan Ramadhan. Dalam catatan sejarah, ia seringkali memerintahkan gencatan senjata atau penghentian serangan selama bulan puasa untuk fokus beribadah.
Namun, pihak Belanda sering memanfaatkan momen ini untuk mengatur ulang posisi mereka atau melakukan penangkapan, yang memicu kemarahan pasukan Diponegoro setelah lebaran tiba.
5. Sejarah "Kue Takjil" yang Bersifat Politis
Beberapa penganan khas Ramadhan di Indonesia sebenarnya adalah hasil percampuran budaya (Tionghoa, Belanda, dan Lokal) yang dulu hanya bisa dinikmati kalangan tertentu.
Kolak: Banyak ahli sejarah menyebut kolak digunakan oleh para penyebar Islam sebagai media dakwah. Nama "Kolak" konon berasal dari kata Khalik (Sang Pencipta), agar manusia selalu ingat kepada Tuhan saat berbuka.
Kurma: Pada awal abad ke-20, kurma adalah barang mewah yang dibawa oleh jamaah haji atau pedagang Arab. Memakan kurma di Indonesia pada masa itu adalah simbol status sosial sekaligus ketaatan pada sunnah yang sangat prestisius.
