5 Fase Siklus Pemerintahan Islam
Fase Kenabian (Nubuwwah): Kepemimpinan langsung oleh Rasulullah SAW yang menyatukan wahyu Ilahi dengan otoritas politik.
Khilafah ala Minhadjin Nubuwwah: Masa Khulafaur Rasyidin. Kepemimpinan yang masih sangat setia pada nilai-nilai kesederhanaan dan keadilan Nabi.
Mulk 'Adhon (Kerajaan yang Menggigit): Era dinasti (Umayyah, Abbasiyah, Utsmaniyah). Disebut "menggigit" karena kekuasaan diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga, namun syariat Islam masih menjadi hukum negara.
Mulk Jabariyan (Kerajaan yang Memaksa/Diktator): Masa di mana pemimpin memerintah dengan tangan besi, seringkali menjauh dari nilai agama, dan umat Islam berada dalam posisi lemah secara politik global.
Khilafah ala Minhadjin Nubuwwah (Kedua): Janji kembalinya sistem keadilan Islam sebelum akhir zaman (sering dikaitkan dengan datangnya Imam Mahdi).
Hadits Periodisasi Umat Islam. Hadits ini merinci lima fase perjalanan kepemimpinan umat Islam dari masa kenabian hingga hari kiamat.
Berikut adalah teks haditsnya:
"Masa kenabian akan ada di tengah kalian selama Allah kehendaki... kemudian masa Khilafah atas manhaj (metode) kenabian... kemudian masa kerajaan yang menggigit (Mulkan 'Adhon)... kemudian masa kerajaan yang memaksa (Mulkan Jabariyan)... kemudian akan kembali masa Khilafah atas manhaj kenabian." (HR. Ahmad).
Analisis dari Berbagai Sudut Pandang
Pandangan terhadap siklus ini sangat beragam, bergantung pada kacamata ideologi dan metodologi yang digunakan.
1. Sudut Pandang Timur (Islami & Tradisional)
Di dunia Timur/Islam, hadits ini dipandang sebagai nubuwwah (prediksi kenabian) yang memberikan harapan dan kerangka sejarah.
Teologis: Mayoritas ulama melihat ini sebagai bukti kebenaran risalah Nabi. Fase ke-4 (Jabariyan) sering dianggap sebagai era modern saat ini, di mana dunia Islam terpecah-pecah.
Eskatologis: Fokusnya adalah pada fase ke-5. Ini menjadi motor penggerak spiritual bagi umat agar tetap optimis meski dalam kondisi tertindas, karena "kejayaan akan kembali."
Gerakan Politik: Kelompok seperti Hizbut Tahrir atau Ikhwanul Muslimin menggunakan hadits ini sebagai legitimasi ideologis untuk memperjuangkan kembali sistem khilafah.
2. Sudut Pandang Barat (Akademisi & Orientalis)
Para sejarawan dan sosiolog Barat (seperti Wael Hallaq atau pakar studi Islam di universitas Barat) cenderung melihat fenomena ini dari sisi sosiopolitik dan sejarah.
Siklus Ibnu Khaldun: Akademisi Barat sering menyandingkan hadits ini dengan teori Ashabiyah Ibnu Khaldun. Mereka melihat perpindahan dari Khilafah ke Kerajaan (Mulk) sebagai evolusi alami dari masyarakat suku menuju peradaban imperium yang kompleks.
Analisis Kekuasaan: Fase Mulk Jabariyan dilihat sebagai masa kegagalan negara bangsa (nation-state) di Timur Tengah pasca-kolonial yang seringkali jatuh ke tangan rezim otoriter.
Kritik Historis: Sebagian orientalis meragukan validitas hadits ini secara tekstual, menganggapnya sebagai "hadits politik" yang muncul belakangan untuk menenangkan masyarakat yang tidak puas dengan dinasti yang berkuasa saat itu.
